Skip to main content

21 Cara Bagaimana Menulis Artikel Yang Ideal (Part 5)

bagaimana menulis artikel yang ideal

Blogging Dulu Ah - Ini lanjutan dari part sebelumnya, yaitu part 4. Semoga part sebelumnya cukup informatif dan bermanfaat untuk anda, agar dapat menulis artikel yang ideal.


13. Tambahkan Tags dan Categories yang relevan
Pastikan anda menambahkan kategori dan tag yang paling relevan ke dalam blog post, agar pembaca dapat secara mudah menemukan konten yang mereka inginkan pada topik serupa di blog anda

14. Jadikan URL teroptimasi dan mudah dibaca
Pembaca mungkin tidak terlalu memperhatikan alamat URL dari artikel anda. Namun, alangkah baiknya jika menjadikannya mudah dibaca. Gunakan tanda "-" untuk memisahkan keyword dalam URL. Jangan gunakan spasi atau underscore. Umumnya, SEO juga tidak merekomendasikan penggunaan stop word pada URL.

Menurut saya, tulislah URL yang mewakili konten dari halaman tersebut, sehingga dengan membaca URL itu saja, pembaca sudah bisa mengetahui maksud dari artikel tersebut. Saya selalu mencoba untuk menjadikan panjang URL saya 60 karakter atau kira-kira kurang dari 7 kata, termasuk kata-kata keyword yang digunakan.

Baca juga : Optimasi SEO pada URL

15. Gunakan Gambar yang berkualitas dan relevan
Sebuah gambar mewakili ribuan kata, begitu kata orang, dan itu tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Itulah mengapa, postingan infographic lebih populer akhir-akhir ini, karena dia menampilkan data secara visual.

Anda dapat membaca lebih lanjut acuan penggunaan gambar pada website di link berikut ini.

Dan ini adalah daftar website untuk mendapatkan gambar-gambar yang sifatnya free untuk digunakan.


Bersambung ke part berikutnya ya...

Comments

Popular posts from this blog

Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Kiai Bangkalan menggeletak di lantai batu dalam Goa Belerang. Sedikit pun tubuh itu tidak bergerak lagi karena nafasnya sudah sejak lama meninggalkan tubuh! Orang tua itu menggeletak menelentang. Dua buah keris kecil yang panjangnya hanya tiga perempat jengkal berhulu gading menancap di tubuh Kiai Bangkalan. Darah bercucuran menutupi seluruh wajahnya. Dalam jari-jari tangan kiri Kiat Bangkalan tergenggam secarik kertas tebal empat persegi. Sedang tepat di ujung jari telunjuk tangan kanannya, yaitu pada lantai batu tergurat tulisan: TAMBUN TULANG Pendekar 212 Wiro Sableng yang berdiri di dekat tubuh tak bernyawa Kiai Bangkalan tidak mengetahui apa arti dua buah kata itu. Apakah nama seseorang yaitu manusia yang telah membunuh orang tua itu, ataukah nama sebuah tempat. Yang diketahuinya ialah bahwa si orang tua telah menuliskan dua buah kata itu pada saat-saat menjelang detik kematiannya karena ujung jari tangan ya...

Seracen oh Seracen

Seracen. Apakah itu? Akhir-akhir ini istilah Seracen menjadi populer. Rumornya, itu adalah kelompok penyebar kebencian di Indonesia. Polisi juga menengarai motivasi kelompok ini adalah mencari keuntungan finansial. "Dari laptop yang kita sita ada ada beberapa proposal dengan jumlah nominal pembuatan ujaran kebencian puluhan juta," menurut Pak Pudjo (Analis Kebijakan Madya Bidang Penmas Divhumas Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono) di acara diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (26 Agustus 2017). Menurut Pak Pudjo, nominalnya mencapai 20 hingga 72 juta rupiah per konten. Sementara itu, dalam diskusi yang sama, Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan, pemerintah harus membuat aturan yang mengikat provider medsos dalam koridor hukum. Menurutnya, hal ini sebenarnya sudah diatur dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hanya saja, pemerintah hingga kini belum membuat aturan turunan yang mengatur lebih rinci mengenai pertanggungjawaban peru...

Sepenggal Lorosae

“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka. “Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!” sambutku spontan, sembari mempersilahkan masuk. “Oh terima kasih, kukira kau sudah tak kenal kami lagi, bagaimana dengan bahasa Indonesiaku?” canda om Alfredo. “Sangat baik tapi perlu latihan lagi.” sahutku dan suara tawa kamipun meledak. Om Alfredo, aku mengenalnya semenjak masa kanak-kanak di bumi Timor Lorosae. Seorang penduduk berdarah campuran porto tetun yang pernah bertetangga denganku. Bertahun-tahun kami hidup damai berdampingan, apalagi setelah Timor Lorosae diakui menjadi bagian integral Republik Indonesia dengan nama propinsi Timor Timur. Namun sayang sekali kedamaian tersebut tak berlangsung lama. Bermula ketika dimumkannya hasil referendum nasib Timor Timur yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah Indonesia. Sungguh mencengangkan!, kubu pro kemerdekaan telah dimenangkan mut...